Minggu, 10 April 2011

Charity for Japan dari HIMAJE

Josephine Dwi Wulandhari – TERAS Pers

YOGYAKARTA (10/04/2011) – Untuk menggalang donasi bagi korban gempa dan tsunami di Jepang, Himpunan Mahasiswa Jepang (HIMAJE) bekerja sama dengan mahasiswa Fakultas Ilmu Bahasa Universitas Gajah Mada menyelenggarakan acara Charity For Japan. Acara ini diselenggarakan pada tanggal 9 - 10 April 2011 di lantai dua Mall Plaza Ambarukmo.
Program penggalangan donasi ini diisi dengan beberapa stand, antara lain stand kaligrafi Jepang, Tanabata, foto tsunami, permainan tradisional, Yukata, foto memakai kimono, dan Belajar Bahasa Jepang. Ada kotak-kotak donasi yang dipasang di setiap stand. Acara charity ini juga dimeriahkan dengan penampilan dari D’joh (tarian Jepang), Tepatepe (band akustik), dan Iaijutsu, Aikido, Karate, Kenjutsu, serta Kendo yang merupakan beladiri asli Jepang. (wul/wir)
(selengkapnya...»)

Senin, 04 April 2011

Diskusi Fashioned Ideology

Maria Lidwina Yanita Petriella – TERAS Pers

YOGYAKARTA (04/03/2011) – Merayakan ulang tahunnya yang keempat, Institute for Multiculturalism and Pluralism Studies (IMPULSE), bekerjasama dengan Seephylliz dan Atsuki Community, mengadakan diskusi tentang fashioned ideology. Fashioned ideology adalah suatu ideologi yang terdapat di dalam sebuah mode. Hadir sebagai pembicara, Ninik Darmawan, Ketua Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) Yogyakarta dan Antariksa dari Kunci Cultral Studies Centre. Diskusi berlangsung di halaman kantor IMPULSE, Kamis minggu lalu (24/03) pada pukul 15.30 - 18.00 WIB, dihadiri mahasiswa, aktivis LSM, dan para perancang mode.
Antariksa mengungkapkan, fashion merupakan salah satu alat perlawanan pada zaman dahulu. Contohnya, pada masa pemerintahan Soekarno, anak muda yang menggunakan kaos oblong, celana cutbray, dan berambut gondrong dianggap melawan pemerintah karena dianggap memberontak. Selain itu, fashion juga menjadi identitas diri. Misalnya, penggunaan jilbab oleh perempuan tahun 1980-an adalah sebagai identitas diri penganut agama muslim.
 
Kini, fashion dijadikan komoditas industri. Hal ini diungkapkan oleh Ninik Darmawan. Menurutnya, gejala tersebut dapat dilihat dari berkembangnya industri distro (distribution outlet) dan banyaknya anak muda yang menggunakan pakaian berlabel distro. Selain sebagai komoditas industri, fashion merupakan simbol penghargaan terhadap orang lain, dengan berpakaian rapi sesuai tempat dan kondisi. Contohnya, sekarang banyak institusi pendidikan dan perusahaan yang mengharuskan orang-orang di dalamnya mengenakan pakaian rapi, bukan kaos oblong, dan bukan sandal jepit. Fashion merupakan cermin diri, atau ciri khas setiap pribadi dengan selera mereka yang berbeda-beda. 
 
Antariksa berharap diskusi ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas kepada peserta tentang sejarah dan perkembangan fashion Indonesia karena fashion merupakan salah satu produk budaya pop. Acara ini juga dimeriahkan mini fashion show di tengah diskusi, yang menampilkan busana-busana rancangan Goet Poespo. (tin/wir)

(selengkapnya...»)

Selasa, 29 Maret 2011

STIEHUNT Gelar Pameran Fotografi Angkatan XIV


LEMPONGSARI (29/03/2011) – STIEHUNT (komunitas fotografi STIE YKPN) menyelenggarakan pameran fotografi bertema “CIRCLE”. Pameran yang diadakan di Kaliurang Milk (Kalimilk), Sleman, ini merupakan tugas akhir dari calon anggota STIEHUNT angkatan XIV sebelum diangkat menjadi anggota resmi. Rencananya pameran akan berlangsung selama tiga hari, mulai hari Sabtu, 27 Maret hingga Senin, 29 Maret 2011. 

Karya yang ditampilkan dalam pameran tersebut berjumlah 30 buah dan dipasang di sekeliling meja-meja dan menghiasi dinding Kaliurang Milk. Beberapa komunitas fotografi Yogyakarta pun tampak hadir dalam pembukaan pameran fotografi ini, seperti FJK, APC, LENSA, dan lain sebagainya. Selain menikmati karya foto yang dipamerkan, para pengunjung dapat menikmati makanan kecil yang disediakan oleh panitia. Band pengisi dari Kalimilk juga ikut bermain musik, mengiringi acara pameran. (tah/wir)

(selengkapnya...»)

Senin, 28 Maret 2011

ABN Rayakan "Celebreight"

Lusia Sri Retno Pamungkas – TERAS Pers



BABARSARI (28/03/2011) – Meski sudah lewat sekitar satu bulan dari tanggal lahirnya, Atmajaya Broadcasting Network (ABN) tetap mengadakan perayaan acara ulang tahun yang kedelapan, Sabtu (26/03) malam kemarin. ABN sendiri lahir pada tanggal 20 Februari 2003. Perayaan yang dikemas dengan nama “Celebreight” ini digelar di lobby perpustakaan Universitas Atma Jaya Yogyakarta. Selain diikuti oleh anggota ABN, acara juga diramaikan tamu undangan dari Kelompok Profesi dan Kelompok Studi (KP/KS) serta Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) lain di FISIP UAJY.

Sidhi Vhisatya, ketua ABN, menuturkan tanggal 26 dipilih bukan tanpa alasan. Angka 2 ditambah 6 akan menghasilkan angka 8, sesuai dengan usia ABN. Semula, perayaan akan digelar pada akhir Februari. Namun karena beberapa kendala dan proses liputan yang belum selesai, persiapan baru dapat dimulai awal Maret.

Perayaan diisi dengan pemutaran karya feature ABN, beberapa acara hiburan tari dan musik, serta pemutaran video yang dibuat khusus untuk mengenang almarhum Abdiel, anggota ABN yang telah meninggal. Selain itu, ada juga penghargaan bagi anggota paling eksis, paling produktif, best couple, dan best screening. Semuanya untuk memberikan semangat anggota ABN untuk tidak berhenti dalam berkarya dan menunjukkan solidaritas antar anggota. (lus/wir)
(selengkapnya...»)

Minggu, 27 Maret 2011

Pameran Seni Potret Jugun Ianfu

Denita Matondang – TERAS Pers


YOGYAKARTA (27/03/2011) - Jurnalis Hilde Janssen dan fotografer Jan Banning mengadakan pameran seni potret bertajuk 'Comfort Women' atau 'jugun ianfu', sebutan untuk perempuan yang dipaksa menjadi pekerja seks pada jaman penjajahan Jepang. Pameran yang diadakan di Langgeng Art Foundation, Jl. Suryodinigratan 37, Yogyakarta, ini dibuka hari Sabtu lalu (26/03) dari jam 19.30 sampai 21.30 WIB yang dihadiri sekitar 60 orang.

Karya yang dipamerkan berjumlah 18 foto dengan berbagai ekspresi dari perempuan Indonesia yang merasakan kejamnya penjajahan Jepang di masa muda mereka. “Sebenarnya ada 50 orang yang saya teliti dan difoto oleh Mr. Banning, namun yang dipampang hanya 18 buah foto. Mereka (18 foto – red) cukup mewakili perasaan dan ekspresi perempuan lain yang merasakan hal yang sama dengan mereka,” ujar Hilde. Foto pameran didominasi oleh perempuan yang berasal dari Jawa. Selain karena hasil seleksi Banning sendiri, mereka sulit menemukan perempuan-perempuan jugun ianfu yang ada di seluruh Indonesia.

Dalam sambutannya, Hilde berkata bahwa pameran ini bertujuan menghormati perempuan-perempuan Indonesia yang menjadi korban kekerasan seksual pada masa penjajahan Jepang. Masyarakat sepatutnya tahu dan tidak membiarkan kisah mereka terkubur begitu saja. 

“Kami akan berbagi pengalaman kepada masyarakat mengenai penelitian dan pameran foto ini. Bagaimana kami bisa menemukan mereka, melakukan pendekatan dengan mereka atau dengan lingkungan sosial mereka, dan masih banyak lagi yang harus masyarakat tahu,” ungkap Hilde. Untuk itu, mereka akan mengadakan presentasi “Working With Long Term Project” yang akan diselenggarakan pada Senin, 28 Maret 2011 di Langgeng Art Foundation. (atn/wir)
(selengkapnya...»)

Rabu, 23 Maret 2011

Seminar Public Lecture oleh FISIP UAJY

Maria Gladiolia Wangge, Tutut Lestari, Kunthi Damayanti Gunawan - TERAS Pers


BABARSARI (20/03/2011) — Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UAJY bekerjasama dengan Badan Eksekutif Mahasiswa dan Himpunan Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi FISIP UAJY mengadakan seminar Public Lecture The Contemporary Public Relations Research and Study. Seminar diselenggarakan pada Sabtu, 19 Maret 2011 di Ruang Konferensi lantai empat, Perpustakaan Universitas Atma Jaya Yogyakarta dengan pembicara Prof. Dr. Martin Loeffelholz dari Technical Ilmenau University, Gregoria Arum Yudarawati, M.Mktg.Com dari Universitas Atma Jaya Yogyakarta, dan FX Danarto Suryo Yudo, MA, practitioner on investor relations Yogyakarta.
Seminar yang diikuti oleh sekitar 50 peserta dari berbagai universitas seperti AKI, UIN Sunan Kalijaga, Unversitas Slamet Riyadi, dan Universitas Diponegoro ini terdiri dari tiga sesi. Sesi pertama berupa suguhan nyanyian dari Atma Jaya Choir, dilanjutkan sesi kedua berisikan pemaparan tentang inti seminar yaitu Crisis of Communication Research, CSR, and Public Relation dan Promoting Investor Relations, A Specialization in Public Relations, dilanjutkan dengan sesi terakhir adalah sesi tanya jawab antara pembicara dan peserta seminar.
Tujuan diadakannya seminar ini, seperti yang dikatakan oleh Kaprodi FISIP UAJY, Dr. Phil. Yudi Perbawaningsih, M.Si., "Saya berharap dengan diadakannya seminar ini, mahasiswa FISIP terutama yang mengambil konsentrasi studi PR mendapatkan ide baru akan penelitian akhirnya, karena jika dilihat, selama ini tema penelitian akhir yang diambil oleh mahasiswa PR sudah terbilang biasa bahkan menjemukan. Sehingga dengan diadakannya seminar ini mahasiswa dapat lebih mengembangkan apa yang akan menjadi tema penelitian mereka nantinya.” (mgw/tut/kun/gab)
(selengkapnya...»)

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UAJY Adakan “Seminar on Asean Journalism”

 Tutut Lestari - TERAS Pers


BABARSARI (18/03/2011) — Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Atma Jaya Yogyakarta bekerjasama dengan ASEAN Cooperation, Ilmenau University, dan The Jakarta Globe mengadakan seminar yang bertemakan “Covering ASEAN Under Indonesian Chairmanship: Background, Trends, and Future”. Seminar dihadiri tiga pembicara, yaitu Ple Priatna, Wakil Direktur ASEAN Cooperation, Prof. Dr. Martin Loeffelholz mewakili Institute Media and Communication Science, Technical University of Ilmenau, dan Ismira Lutfia dari The Jakarta Globe.
Seminar bertempat di ruang seminar lantai tiga Perpustakaan Universitas Atma Jaya Yogyakarta, berlangsung dari pukul 09.00 WIB sampai 11.30 WIB. Peserta seminar mencapai 60 orang yang berasal dari berbagai universitas di Daerah Istimewa Yogyakarta, seperti UAJY, UII, UMY, UPN, APMD dan turut dihadiri oleh Aliansi Jurnalis Indonesia serta wartawan dari Viva News, Media Indonesia, RRI Jogja, Jogja TV, dan Koran Harian Jogja.
Menurut Dr. Lukas S. Ispandriarno, MA., Dekan FISIP UAJY sekaligus moderator dalam acara ini mengatakan bahwa seminar ini bertujuan untuk memberitahukan kepada masyarakat yang selama ini kurang tahu bahwa Indonesia adalah ketua ASEAN. Baginya kekurangtahuan masyarakat disebabkan oleh isu-isu pemberitaan tentang ASEAN tidak menarik, terlalu muluk sehingga diharuskan ada keseimbangan antara dua belah pihak antara negara pemerintah Asean dengan media itu sendiri. Sebab seperti yang dinyatakan oleh Plea Priatna, “ASEAN is not only a theory, ASEAN is a fact. ASEAN need three point, stability, economics, and democratization. Media is very important part to blow up what is ASEAN to all people in center ASEAN. ASEAN becomes a real community.” (tut/gab/wir)
(selengkapnya...»)

Selasa, 15 Maret 2011

Onegai Shelter Gelar Festival Rumah Hantu

Maria Gladiolia Wangge – TERAS Pers


BABARSARI (15/03/2011) – Komunitas Onegai Shelter menyelenggarakan Festival Rumah Hantu bertajuk “Mistery Lawang Sewu” dan “Obake”. Acara ini digelar selama sebulan pada tanggal 11 Maret – 11 April 2011 di pelataran parkir Pelle Futsal, sebelah utara gedung Teresa kampus UAJY. Menurut Rengga, salah satu panitia penyelenggara, acara ini merupakan rangkaian tour untuk memberikan hiburan kepada masyarakat di beberapa kota seperti Yogyakarta, Solo, dan Semarang.

Nama Lawang Sewu dan Obake dipilih karena panitia mengangkat dua tema hantu yang berbeda, yaitu hantu Indonesia dan hantu Jepang. Hantu yang disuguhkan beragam, mulai dari kuntilanak, genderuwo, hingga sodako dan vampir. Setiap hari senin sampai rabu ada sesi foto antara pengunjung dengan para hantu. Hingga hari Minggu kemarin (13/11), acara hiburan ini telah berhasil menarik sekitar dua ribu pengunjung.

“Kami ingin memberikan yang terbaik bagi para pengunjung. Mulai dari wardrobe, interior dan konseptornya kami memanggil orang yang ahli dan berpengalaman dalam bidang ini. Kami juga ingin menunjukkan bahwa Haunted House ini tidak bisa dipandang sebelah mata karena disini kreativitas dan seni sangat dibutuhkan,” papar Rengga. (mgw/wir)

(selengkapnya...»)

Sabtu, 18 Desember 2010

Kelas Film dan Sinema Terbitkan Buku

Purba Wirastama - TERAS Pers

BABARSARI (17/12/2010) - Bekerja sama dengan penerbit Lingkar Media, kelas Film dan Sinema Ilmu Komunikasi FISIP UAJY kembali menerbitkan buku. Masih sama seperti tahun lalu, buku ini merupakan kumpulan tulisan dari mahasiswa peserta kelas. Sebanyak 61 tulisan dirangkum dengan judul “Elegi Perfilman Indonesia”. Bertempat di lobby perpustakaan Babarsari UAJY, buku ini resmi diluncurkan dengan pemotongan pita yang diwakili oleh Fajar Junaedi, dosen kelas Film dan Sinema.

Menurut Fajar, awal mula ide buku di akhir semester ini adalah dari para mahasiswa yang ingin mengembangkan tradisi menulis. “Dengan ini, hasil kuliah juga dapat terdokumentasi karena biasanya dibuang. Publik dapat menikmati dan mahasiswa menjadi lebih bersemangat karena ada outcome. Selain itu, buku ini juga dapat memperkaya,” ujar Fajar menerangkan.

Ketika ditanya lebih lanjut mengapa memakai judul “Elegi”, Fajar mengungkapkan bahwa tulisan-tulisan dalam buku ini berbicara tentang kondisi film Indonesia yang memprihatinkan. Hal ini tampak dalam judul bab yang menjadi pembagi topik tulisan, antara lain seks dan gender, mistik dan hantu, religiositas, anak, etnis, nasionalisme, kriminalitas, sensor film, dan distribusi film. Selain menjadi tambahan koleksi di perpustakaan, buku ini akan didistribusikan di beberapa toko buku di Yogyakarta.
(selengkapnya...»)

Kamis, 28 Oktober 2010

Posko Bencana FISIP UAJY, Ajang Manusia Sosial

Emerita Rosalinda Davita


Yogyakarta—Sukarelawan yang terdiri dari mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Atma Jaya Yogykarta membuka Posko Bencana Merapi. Kegiatan ini dikoordinasi oleh BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa). Posko yang terletak di Ruang Kemahasiswaan tersebut terbuka untuk masyarakat yang ingin menyalurkan bantuan bagi para korban bencana Merapi yang sudah terjadi sejak tanggal 26 Oktober 2010.

Penggalangan dana telah diawali dengan mengedarkan kotak dari kelas ke kelas selama dua hari. Selain itu, para sukarelawan juga menampung bantuan dari fakultas-fakultas lain untuk disalurkan kepada korban bencana.
Aring (21), seksi penggalangan dana, berkata, ”Itu (penggalangan dana dari kelas ke kelas-pen) tidak bisa dilakukan terus-menerus karena terbatas setiap orang. Dan itu, kalau kita masuk ke kelas-kelas dari hari pertama dan kedua itu orangnya sama. Dan itu kan sudah tidak efektif lagi.” Saat ini program yang sedang dilakukan untuk menggalang dana adalah pembuatan kaos dengan tulisan “Pray & Act for Indonesia”. Hasil keuntungan dari penjualan kaos tersebut akan disalurkan kepada korban bencana Merapi.
Sampai saat ini, bantuan yang telah dikirim berupa bantuan logistik, seperti peralatan mandi, makanan, pembalut, baju pantas pakai, dan sebagainya. Bantuan dikirim setiap hari secara berkala dan diarahkan ke tempat-tempat yang masih kekurangan suplai bantuan, yaitu Klaten, Boyolali, dan Muntilan.
Saat ini terdapat beberapa barang yang sedang diusahakan, seperti makanan untuk balita dan alas tidur. Para pengungsi masih harus tidur tanpa alas mengingat evakuasi diadakan secara tiba-tiba. Selain itu pula, pasokan makanan untuk balita sangat minim. Program bantuan tersebut akan terus dilaksanakan selama masih ada bantuan yang akan disalurkan kepada para korban bencana. ”Inilah saatnya untuk membuktikan bahwa kamu adalah manusia-manusia sosial. Berada di dalam kelas tidak menjamin apakah hidup akan sukses atau tidak,” tambah Aring. Dia mengajak mahasiswa yang lain untuk bergabung dalam posko bencana FISIP Universitas Atma Jaya Yogyakarta.(ERD)
(selengkapnya...»)

Jumat, 01 Oktober 2010

Konser “This Is My All” Kobarkan Semangat Bhinneka Tunggal Ika di Tengah Masyarakat Multikultural

I Gede Titah Pratyaksa


Yogyakarta - Gegap gempita para penonton sangat terasa saat berlangsungnya konser “This Is My All” oleh Paduan Suara Mahasiswa (PSM) Universitas Atma Jaya Yogyakarta di Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta, Minggu 26 September 2010. Lima ratus tiket untuk penonton laris manis terjual. Tampak hadir pula Rektor Universitas Atma Jaya Yogyakarta, Ir. A. Koesmargono, M.CM, P.Hd., Wakil Rektor I dan Wakil Rektor II Universitas Atmajaya Yogyakarta, para mahasiswa, pelajar, serta tamu undangan lainnya. Konser yang digelar dalam rangka Dies Natalis Universitas Atma Jaya Yogyakarta ke-45 ini sungguh fantastis karena proses penggarapannya sendiri hanya membutuhkan waktu kurang lebih satu bulan.
Ada beberapa hal menarik yang tersaji di dalam konser yang memukau ini. Terdapat tiga fragmen yang membagi rangkaian acara konser yang dikomando oleh Benediktus Deny Wijayanto. Pada fragmen pertama bercerita tentang kesengsaraan hidup yang dihadapi oleh manusia, di sini Kelompok Belajar Teater (KBT) Kotabaru menampilkan beberapa musibah yang pernah melanda Indonesia, seperti halnya bom JW Marriot dan ledakan tabung gas yang kini tengah hangat diperbincangkan oleh masyarakat.
Gerak agresif serta pengkarakteran tokoh ”teroris” yang memukau mampu membuat para penonton berdebar-debar. Beberapa lagu penuh penghayatan dilagukan oleh PSM UAJY, salah satunya adalah lagu 21 Guns, semakin menghanyutkan penonton untuk ikut merasakan bagaimana kesengsaraan itu seolah benar-benar terjadi. Perang, bencana, kemiskinan yang tiada akhir selalu membawa penderitaan bagi manusia.
Selanjutnya pada fragmen kedua dan ketiga menceritakan manusia yang sedang mencari keberadaan Tuhan, mencari kedamaian, ketenangan, dan keadilan. Lagu Negeri di Awan menjadi salah satu latar belakang yang mendukung fragmen kedua dan pada fragmen ketiga inilah yang ditunggu-tunggu oleh para penonton. Pada fragmen ini ditampilkan kolaborasi multikultural yang “wah, suguhan musik dari para penabuh Etnomusikologi ISI Yogyakarta, Orkes ISI Yogyakarta, dan PSM UAJY dipadu dengan tarian tradisional dari Jawa, Bali, Dayak, Batak, dan Papua menambah cita rasa fragmen ketiga ini. Bercerita ketika akhirnya manusia telah menemukan Tuhan dan mereka menikmati kenikmatan hidup yang Tuhan persembahkan pada hamba-hambanya. Perang, bencana, kemiskinan perlahan lenyap digantikan oleh rasa persatuan dan kesatuan yang adiluhung yang mencerminkan khazanah budaya bangsa.
Menurut Wahyu, anggota PSM UAJY, dirinya sangat senang bisa tampil pada konser kali ini. “Seneng banget aku bisa tampil pada konser kali ini, apalagi ketika aku nyanyi sambil memakai pakaian tradisional Papua, mantap dah!” ujarnya sembari tersenyum. Begitu pula dengan Deny selaku ketua Konser “This Is My All”, dengan adanya konser ini, dirinya ingin menunjukkan kepada publik bahwa UAJY adalah sebuah universitas yang multikultural. “UAJY bukanlah kampus yang hanya unggul di bidang akademis semata, melainkan juga unggul di bidang nonakademisnya, seperti halnya pada beberapa UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) yang berprestasi di bidang budaya, olahraga, dan sebagainya yangmampu bersaing hingga tingkat nasional dan internasional. Denyjuga berharap, dengan diadakannya konser ini bisa meningkatkan rasa persatuan dan kesatuan yang berbasiskan Bhinneka Tunggal Ika di tengah masyarakat multikultural sehingga tidak ada perpecahan yang terjadi, melainkan semangat untuk bersatu sebagai satu kesatuan Bangsa Indonesia.
(selengkapnya...»)

Rabu, 11 Agustus 2010

Promosi TERAS Pers di Inisiasi FISIP 2010

Yogyakarta (11/08/10) -Seperti biasanya, awak TERAS, sebagai sebuah kelompok profesi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik UAJY menghadiri inisiasi fakultas. Pada agenda siang ini TERAS berkesempatan untuk mempromosikan media kampus ini, dan membawa harapan ada banyak mahasiswa tertarik mendalami dunia jurnalistik terutama dorongan menyebarkan informasi kepada publik. TERAS pers sendiri pada kesempatan siang ini juga ingin memperkenalkan terbitnya TERAS online sebagai sarana untuk menginformasikan berita dalam perkembangan teknologi yang semakin maju. Akhirnya harapan yang dibawa adalah TERAS mampu menyajikan berita yang cepat dan akurat. (jan) (selengkapnya...»)

Kamis, 05 Agustus 2010

Inspirasi Madz

Andreas Ryan Sanjaya

Yogyakarta—Auditorium MM UGM Yogyakarta (04/08) sejenak memunculkan ekspresi yang aneh pada orang-orang di dalamnya. Ada yang tersenyum kecut, ada yang membuka mulut dan mata lebar-lebar, ada yang tegang, bahkan ada pula yang hanya bisa lemas dan terdiam di kursi tanpa ekspresi. Orang-orang itu sedang menyaksikan sekelompok kecil orang yang mengharmonisasikan nada melalui nyanyian dari hati mereka. Mereka adalah Philippine Madrigal Singer alias Madz, kelompok paduan suara dari Filipina.

Malam itu Madz rencananya menyanyikan 18 lagu tetapi karena tepuk tangan tiada henti dan teriakan berulang-ulang dari penonton, ”We want more!”, mereka yang sudah turun panggung kembali lagi ke atas panggung. Tanpa diiringi satu pun alat musik mereka menyanyikan lagu tambahan dan malam itu mereka berhasil membius penonton dengan total 21 lagu.

Kedatangan mereka kali ini merupakan sebuah rangkaian acara selama Madz berada di Indonesia. Sebelum ke Yogyakarta terlebih dahulu mereka ke Bandung untuk menyemarakkan lomba paduan suara tingkat internasional di ITB. Mereka tidak hanya mengadakan konser saja, melainkan juga choir clinic yang bertujuan untuk memperbaiki kualitas kelompok-kelompok paduan suara dari kota yang dikunjunginya. Bagaimana dengan kualitas mereka sendiri? Jangan ditanya, mereka adalah pemenang pada ajang bergengsi dunia, European Grand Prix of Choral Singing, pada tahun 1997 dan 2007.

Tepuk tangan terkeras penonton terjadi ketika mereka menyanyikan ”Sempurna” dari grup musik Andra & The Backbone, ”Beautiful Girl” dari Jose Mari Chan, dan ”Circle of Life” dari Elton John. Madz menutup konser bertajuk ”Indonesia Goodwill Concert Tour 2010” ini dengan mengajak penonton turut serta bertepuk tangan. Keindahan harmonisasi suara mereka sangat menghibur dan menginspirasi penonton yang sebagian besar adalah orang-orang yang menggemari paduan suara. Seperti yang dikatakan Pungky, seorang aktivis PSM di universitasnya, ”Sebagai pemusik, saya terinsipirasi!”(ars) 
(selengkapnya...»)

Kamis, 04 Desember 2008

Pagelaran Eksentrik dari Mustika Maya

Aring Sulistyo - Teras Online

Alun-alun Utara (4/12/08) -- Kelompok UKM Musik Fakultas ISIP, Mustika Maya, kemarin malam menggelar gladi bersih untuk pagelaran tahunan mereka yang kedua (4/12). Pagelaran tersebut akan dilaksanakan besok malam pukul 19.00 WIB di tempat yang sama, Royal Garden Restaurant di Jalan Pekapalan No.7 Alun-alun Utara Yogyakarta.

Pagelaran bertajuk “The Original Soundtrack of Indonesia” ini tergolong sangat unik dan menarik. Pasalnya Mustika Maya akan menampilkan sekitar 17 lagu asli Indonesia yang di-aransemen kembali versi mereka. Kami ingin menunjukkan bahwa lagu daerah pun masih enak dinikmati dengan cara kami, kata Iskak salah satu personil dari Mustika Maya. Pagelaran berdurasi sekitar tiga jam ini, menyuguhkan lagu daerah seperti Cublak-cublak Suweng, Gambang Suling, Angin Mamiri, Sipatokaan dan akan di tutup dengan lagu Satu Nusa Satu Bangsa. Sementara itu menurut Ketua Mustika Maya, Ocha Yanuard (’06) tidak ada misi dan tujuan khusus dalam acara ini. “Kami hanya ingin eksis”, katanya dalam sela-sela gladi bersih.(arg)
(selengkapnya...»)

Rabu, 26 November 2008

Besok, Peraturan Lembaga Kemahasiswaan Bakal Dibincangkan

Hendy Adhitya - Teras online

Babarsari(26/11/08) -- Berkait dengan pro dan kontra mengenai batasan aktifitas kemahasiswaan di UAJY, Kamis (27/11) akan diadakan pertemuan guna memperjelas maksud peraturan pelaksanaan kegiatan kemahasiswaan tersebut. "Forum itu dimaksudkan sebagai sarana diskusi dan sosialisasi atas pengesahan dan pelaksanaan kebijakan tersebut," seperti tertulis dalam surat undangan dari BEM FISIP UAJY. Surat tersebut ditandatangani Presiden BEM FISIP UAJY periode 2008-2009, Yudhis.

Rencananya pertemuan ini bakal mempertemukan Agus Putranto, Wakil Dekan 1 FISIP UAJY dan Nindito, Pejabat Kemahasiswaan dengan mahasiswa yang tergabung dalam organisasi kemahasiswaan dan non-organisasi di FISIP UAJY.

Pasal-pasal yang mendapat sorotan khusus di kalangan mahasiswa UKM dan KP adalah pasal 4 poin 3. Yaitu soal dibatasinya waktu berkegiatan mahasiswa dalam hal pementasan sampai jam 10 malam. Selain itu beberapa mahasiswa juga mempermasalahkan Pasal 8 poin 4 yang mengatur tidak diperbolehkannya sponsor rokok.

Sebelum ini, peraturan pelaksanaan kegiatan lembaga kemahasiswaan UAJY telah mengalami empat kali revisi. Revisi terakhir dilakukan pada tanggal 9 Oktober 2008.

"Tidak ada revisi dan akan disahkan dalam waktu singkat, mungkin satu bulan ini," kata Pak Siswanto seperti disampaikan Yudhis lewat layanan pesan singkat.

Mengenai hal ini Yudhis menyampaikan lewat SMS," idealnya besok jadi ajang mereka kasih pendapat rasional , kita (mahasiswa -pen) ajukan juga dan bersama cari solusi buat itu."(hen)

(selengkapnya...»)

Senin, 03 November 2008

Irsyad Thamrin: Kaum Muda Tidak Tampilkan Karakter Intelektual

Hendy Adhitya – Teras Online


Babarsari (03/11/08) -- Dalam seminar bertajuk Kepeloporan Politik Pemuda, Ketua Lembaga Bantuan Hukum DI Yogyakarta Irsyad Thamrin mengatakan, “Kaum muda tidak lagi menampilkan karakter intelektual.” Lebih jauh lagi, menurutnya pemuda kini justru terjebak dalam pragmatisme kepentingan.

Selain itu, kaum muda nampak tidak mempunyai kekuatan melawan rezim yang berkuasa. Pengangkangan kepentingan dan korban politisasi diduga jadi penyebabnya.

Sementara itu pembicara lain, Anggota KPUD DI Yogyakarta Tito Haryanto mengajukan solusi atas permasalahan ini. “Kaum muda harus dipilah secara baik. (Pilihlah –red) ikon kaum muda yang memiliki visi dan komitmen terhadap kaum kecil,” katanya.

Selain itu ia juga mengajukan tiga usulan tipe pemimpin muda alternatif. Pertama, ia harus memiliki keteladanan politik. “Kaum muda yang dipilih adalah yang memang ingin berdarah-darah kepada rakyat,” ujarnya. Kedua, ia mempunyai visi, platform yang solutif terhadap masalah.

“Sedangkan yang ketiga ia punya keteladanan moral, bersih dan tidak terkait dengan pidana korupsi atau makan uang rakyat,” tandas alumnus UGM ini.

Seminar yang diadakan di Auditorium AVIS Kampus dua ini merupakan kerja sama BEM FISIP UAJY dengan Persindo.(hen)
(selengkapnya...»)

Selasa, 28 Oktober 2008

Sultan HB X Siap Menuju RI-1

Andri Wicaksono, Yohanes Januadi - Teras Online
Foto oleh Hendy Adhitya


Alun-alun Utara Yogyakarta (28/10/08) -- Setelah sekian lama, sejak 7 April 2008, di mana Sultan HB X menyatakan tidak bersedia lagi menjadi Gubernur DIY, akhirnya jawaban tegas terlontar pada sore hari tadi, 28 Oktober 2008. Acara Pisowanan Agung dengan tajuk “Dari Jogja Untuk Indonesia”, tampak riuh dengan panggung hiburan yang diisi oleh: Katon Bagaskara, Trie Utami, Franky Sahilatua, dan Kyai Kanjeng. Sajian hiburan pun tak lepas dari suasana politis, menatap hal ini jelas bahwa isu pluralisme menjadi semangat Sultan.

Di tengah cuaca yang mendung, ribuan masyarakat Yogyakarta maupun masyarakat perwakilan dari seantero Indonesia tampak antusias menantikan Sultan untuk menyampaikan jawabannya. Pada pukul 15:30 WIB, Sultan akhirnya memproklamirkan dirinya ke publik, bahwa beliau siap maju menjadi Presiden 2009. Kalah dan menang bukan masalah, sebagai bagian dari demokrasi Indonesia, inilah yang menjadi semangat perubahan yang ingin dibawa oleh Sultan. Predikatnya sebagai Raja, tidak ada kaitan dengan pencalonannya. “Yogyakarta sudah menjadi bagian dari Republik Indonesia, saya bukanlah raja seperti seratus tahun yang lalu, kini sudah bagian negeri ini,” kata Sultan.

Pisowanan Agung yang dibalut dengan konsep budaya, amat kental terasa suasana politisnya. Massa partai Republika Nusantara yang sepertinya sudah mendeklarasikan Sultan sebagai capres, turut pula membanjiri Alun-alun Utara Yogyakarta dengan atributnya. Acara pun berlangsung kondusif. Animo masyarakat Yogyakarta sendiri tidak begitu terasa dalam Pisowanan Agung kali ini. Hal ini merupakan salah satu indikasi dari terpecahnya dua kubu, Pro Penetapan dan Pro Pencalonan. Meski visi masyarakat Yogyakarta terbagi, namun suasana tepo sliro tetap terasa. Inilah Yogyakarta dengan babak baru yang digoreskan oleh Sultan HB X di Bumi Mataram untuk Indonesia.

Dalam acara Pisowanan Agung ini, sebetulnya ada sesuatu yang ingin diangkat oleh Sultan HB X yaitu sebuah konsep budaya yang amat pluralis, yaitu dengan mengundang berbagai wujud kesenian yang ada di Indonesia, seperti kesenian Jathilan, kesenian dari Sulawesi Utara, pengarakan bendera merah putih dan berbagai tarian maupun jenis kesenian yang lainnya. Tetapi tema yang ingin disampaikan cenderung terkesan sulit untuk ditangkap oleh sebagian besar masyarakat yang datang, pasalnya keseluruhan kesenian itu hanya dikirab menghadap panggung tamu undangan saja dan tidak melakukan atraksi apapun, padahal sebagian besar orang yang datang dalam acara ini menginginkan sesuatu hiburan kesenian yang mereka tahu sebagai sebuah gelaran budaya.

Nampaknya gelaran budaya yang disajikan hanya terlihat sebagai ”alat” penarik animo masyarakat untuk menghadiri acara ini, walaupun pada kenyataannya animo masyarakat Yogyakarta belum terasa. Secara keseluruhan acara ini berhasil mencapai tema besar yang diangkatnya yaitu ”Dari Yogyakarta Untuk Indonesia”. Melalui acara ini juga sebuah praktek demokrasi telah dilaksanakan yaitu tempat di mana rakyat dan pemimpinnya dapat berkomunikasi, baik melalui acara besar Pisowanan Agung maupun sub-acaranya yaitu konferensi pers.(ndr/jan)
(selengkapnya...»)

Sabtu, 27 September 2008

Sri Sultan Hadiri Dies Natalis UAJY

Winda Angelita - Teras Online

Babarsari (27/09/08) -- Tepat pukul 09.00 WIB acara Dies Natalis ke-43 UAJY dimulai. Tema yang diangkat adalah "Setia pada Cita-Cita dan Tekun dalam Pengabdian untuk Membangun Keunggulan yang Berkelanjutan".

Upacara Dies Natalis yang diadakan di Auditorium Kampus Dua UAJY ini berlangsung khusyuk dan dihadiri oleh beberapa tamu penting. Seperti Sri Sultan Hamengku Buwono X.

Pada kesempatan itu Sri Sultan hadir dengan memberi orasi budaya. Selain itu, dalam acara ini juga disampaikan pidato ilmiah seputar krisis pengelolaan energi global yang disampaikan oleh Profesor Prisasto Satwiko. "Masalah energi dan kerusakan keadaan lingkungan bumi saat ini dapat diatasi secara efektif bila setiap pribadi mau mengubah gaya hidup, terutama menu makanan," ujarnya.

Di acara ini UAJY juga memberikan penghargaan kepada karyawan UAJY yang mengabdi selama 25 hingga 30 tahun. Tak ketinggalan mahasiswa yang terlibat aktif di masing-masing program studi dan UKM turut diberi penghargaan. Prosesi ini lalu ditutup dengan doa oleh Romo Gito Wiratmo.(og)
(selengkapnya...»)

Senin, 22 September 2008

Bagaimana Nasib RUU APP?

Winda Angelita – Teras Online

Malioboro (22/09/08) Demo menolak RUU AP kembali digelar. Siang tadi sekitar pukul 14.00 WIB kota Jogja mendapat ‘giliran’-nya. Demo yang dilaksanakan tepat di depan Gedung Agung Yogyakarta berlangsung damai dan dihadiri oleh beberapa elemen masyarakat. Mereka memiliki beraneka ragam tuntutan.

Layaknya mengantri sembako, para aktivis elemen masyarakat menunggu waktu untuk berorasi di atas panggung sederhana yang telah disediakan. Jalan Malioboro pun penuh oleh masyarakat dan massa aksi.

“Jangan biarkan kebudayaan seni kita dikekang olah RUU AP!” seru Linda salah satu peserta demonstrasi, yang disambut meriah oleh massa yang sebagian besar adalah seniman. Seruannya mengawali rangkaian orasi menanggapi hadirnya RUU AP. Dalam orasinya, Linda juga menyuarakan hak-hak perempuan, di mana perempuan selalu menjadi kambing hitam atas tindakan eksploitasi yang diterima oleh kaum hawa.

Pada aksi damai ini, terlihat beberapa seniman Yogyakarta ikut turun ke jalan. Salah satunya adalah Djaduk Ferianto yang di akhir demo memimpin para demonstran menyanyikan lagu Indonesia Raya. Untuk mengakhiri demonstrasi sore itu, dibacakan pernyataan sikap dari para demonstran. Salah satu poinnya menekankan bahwa prinsip-prinsip dasar tata pemerintahan yang baik adalah dengan merestorasi perangkat hukum yang ada.

Dengan mengesahkan RUU AP tanpa memperhatikan pemerintahan dan perangkat hukum yang ada, implementasi dari UU tersebut tidak akan berjalan efektif.(og)
(selengkapnya...»)

Sabtu, 20 September 2008

Ketika 'Suara Malam' Berbicara.

Dany Ismanu - Teras Online

Babarsari (20/09/08) -- Sociologi Study Club (SSC) Universitas Atma Jaya Yogyakarta menandai perayaan hari ulang tahunnya dengan pemutaran dan diskusi film "Menggugat Lewat Suara Malam". Pemutaran dan diskusi film dilangsungkan siang tadi (20/09), di ruang kelas 4006 FISIP UAJY pada pukul 10.00 WIB.

Menggugat Lewat Suara Malam, sebuah film pendek yang berkisah tentang kehidupan pekerja seks komersil (PSK) kawasan Yogyakarta. PKBI sebagai LSM yang terkait, menjadi mediator bersama dengan kawan-kawan dari Kotak Hitam. Menariknya, proses pembuatan atau produksi film ini diserahkan sepenuhnya kepada para pekerja seks. Merekalah sutradara, penulis naskah, kameramen, sekaligus 'artis'-nya.

"Sulit mas, setelah skenario jadi, kita bersikukuh, kita tidak akan malu bahwa kita adalah lacur," ungkap Bety sang sutradara, di sela-sela diskusi. Kesulitan utamanya memang meyakinkan para PSK yang akan diajak terlibat dalam proses pembuatan film. "Saya kagum dengan teman-teman, mereka dapat mempersuasi teman-teman yang lain untuk ikut berpartisipasi," ujar Andrew koordinator SSC, sekaligus orang yang terjun langsung sebagai fasilitator dalam proses produksi.

Proses praproduksi sendiri diawali dengan workshop dan sebuah forum yang dilangsungkan di kawasan Pasar Kembang, Yogyakarta. "Di sana kita mengkategorikan permasalahan, dari seputar HIV, kanker, permasalahan kesehatan lainnya, stigma dari masyarakat, sampai dengan HAM dalam arti perlakuan terhadap PSK," jelas Andrew. Yang kemudian menjadi fokus utama adalah bagaimana perlakuan (kekerasan) yang diterima PSK, baik dari keluarga, masyarakat, terutama peran Satpol PP yang sering melakukan razia.

Film ini banyak bercerita tentang kerasnya perlakuan Satpol PP ketika melakukan razia malam hari. Dijambak, diseret, dicubit, bahkan dipukul, seakan menjadi biasa mendarat pada tubuh para PSK ketika mereka terkena razia. Film ini pun mencoba mengkritik hal tersebut dan lebih luas lagi PERDA pelacuran yang berlaku di Yogyakarta.

"Ini dari kita, untuk kita, dan untuk penerus kita," kenang Bety ketika berusaha meyakinkan kawan-kawannya untuk dapat ikut terlibat. "Walaupun kita PS (pekerja seks -red) kita tidak ingin dipandang sebelah mata," lanjutnya.

Menurut Andrew sendiri, film atau video ini memang dipatok hanya menjadi sebuah medium dan awalan serta eksklusif untuk komunitas. Advokasi lebih lanjut mengharapkan partisipasi masyarakat luas yang memang tidak mudah.(dny)
(selengkapnya...»)