Tampilkan postingan dengan label berita kawat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label berita kawat. Tampilkan semua postingan

Minggu, 10 April 2011

Charity for Japan dari HIMAJE

Josephine Dwi Wulandhari – TERAS Pers

YOGYAKARTA (10/04/2011) – Untuk menggalang donasi bagi korban gempa dan tsunami di Jepang, Himpunan Mahasiswa Jepang (HIMAJE) bekerja sama dengan mahasiswa Fakultas Ilmu Bahasa Universitas Gajah Mada menyelenggarakan acara Charity For Japan. Acara ini diselenggarakan pada tanggal 9 - 10 April 2011 di lantai dua Mall Plaza Ambarukmo.
Program penggalangan donasi ini diisi dengan beberapa stand, antara lain stand kaligrafi Jepang, Tanabata, foto tsunami, permainan tradisional, Yukata, foto memakai kimono, dan Belajar Bahasa Jepang. Ada kotak-kotak donasi yang dipasang di setiap stand. Acara charity ini juga dimeriahkan dengan penampilan dari D’joh (tarian Jepang), Tepatepe (band akustik), dan Iaijutsu, Aikido, Karate, Kenjutsu, serta Kendo yang merupakan beladiri asli Jepang. (wul/wir)
(selengkapnya...»)

Selasa, 29 Maret 2011

STIEHUNT Gelar Pameran Fotografi Angkatan XIV


LEMPONGSARI (29/03/2011) – STIEHUNT (komunitas fotografi STIE YKPN) menyelenggarakan pameran fotografi bertema “CIRCLE”. Pameran yang diadakan di Kaliurang Milk (Kalimilk), Sleman, ini merupakan tugas akhir dari calon anggota STIEHUNT angkatan XIV sebelum diangkat menjadi anggota resmi. Rencananya pameran akan berlangsung selama tiga hari, mulai hari Sabtu, 27 Maret hingga Senin, 29 Maret 2011. 

Karya yang ditampilkan dalam pameran tersebut berjumlah 30 buah dan dipasang di sekeliling meja-meja dan menghiasi dinding Kaliurang Milk. Beberapa komunitas fotografi Yogyakarta pun tampak hadir dalam pembukaan pameran fotografi ini, seperti FJK, APC, LENSA, dan lain sebagainya. Selain menikmati karya foto yang dipamerkan, para pengunjung dapat menikmati makanan kecil yang disediakan oleh panitia. Band pengisi dari Kalimilk juga ikut bermain musik, mengiringi acara pameran. (tah/wir)

(selengkapnya...»)

Minggu, 27 Maret 2011

Pameran Seni Potret Jugun Ianfu

Denita Matondang – TERAS Pers


YOGYAKARTA (27/03/2011) - Jurnalis Hilde Janssen dan fotografer Jan Banning mengadakan pameran seni potret bertajuk 'Comfort Women' atau 'jugun ianfu', sebutan untuk perempuan yang dipaksa menjadi pekerja seks pada jaman penjajahan Jepang. Pameran yang diadakan di Langgeng Art Foundation, Jl. Suryodinigratan 37, Yogyakarta, ini dibuka hari Sabtu lalu (26/03) dari jam 19.30 sampai 21.30 WIB yang dihadiri sekitar 60 orang.

Karya yang dipamerkan berjumlah 18 foto dengan berbagai ekspresi dari perempuan Indonesia yang merasakan kejamnya penjajahan Jepang di masa muda mereka. “Sebenarnya ada 50 orang yang saya teliti dan difoto oleh Mr. Banning, namun yang dipampang hanya 18 buah foto. Mereka (18 foto – red) cukup mewakili perasaan dan ekspresi perempuan lain yang merasakan hal yang sama dengan mereka,” ujar Hilde. Foto pameran didominasi oleh perempuan yang berasal dari Jawa. Selain karena hasil seleksi Banning sendiri, mereka sulit menemukan perempuan-perempuan jugun ianfu yang ada di seluruh Indonesia.

Dalam sambutannya, Hilde berkata bahwa pameran ini bertujuan menghormati perempuan-perempuan Indonesia yang menjadi korban kekerasan seksual pada masa penjajahan Jepang. Masyarakat sepatutnya tahu dan tidak membiarkan kisah mereka terkubur begitu saja. 

“Kami akan berbagi pengalaman kepada masyarakat mengenai penelitian dan pameran foto ini. Bagaimana kami bisa menemukan mereka, melakukan pendekatan dengan mereka atau dengan lingkungan sosial mereka, dan masih banyak lagi yang harus masyarakat tahu,” ungkap Hilde. Untuk itu, mereka akan mengadakan presentasi “Working With Long Term Project” yang akan diselenggarakan pada Senin, 28 Maret 2011 di Langgeng Art Foundation. (atn/wir)
(selengkapnya...»)

Selasa, 15 Maret 2011

Onegai Shelter Gelar Festival Rumah Hantu

Maria Gladiolia Wangge – TERAS Pers


BABARSARI (15/03/2011) – Komunitas Onegai Shelter menyelenggarakan Festival Rumah Hantu bertajuk “Mistery Lawang Sewu” dan “Obake”. Acara ini digelar selama sebulan pada tanggal 11 Maret – 11 April 2011 di pelataran parkir Pelle Futsal, sebelah utara gedung Teresa kampus UAJY. Menurut Rengga, salah satu panitia penyelenggara, acara ini merupakan rangkaian tour untuk memberikan hiburan kepada masyarakat di beberapa kota seperti Yogyakarta, Solo, dan Semarang.

Nama Lawang Sewu dan Obake dipilih karena panitia mengangkat dua tema hantu yang berbeda, yaitu hantu Indonesia dan hantu Jepang. Hantu yang disuguhkan beragam, mulai dari kuntilanak, genderuwo, hingga sodako dan vampir. Setiap hari senin sampai rabu ada sesi foto antara pengunjung dengan para hantu. Hingga hari Minggu kemarin (13/11), acara hiburan ini telah berhasil menarik sekitar dua ribu pengunjung.

“Kami ingin memberikan yang terbaik bagi para pengunjung. Mulai dari wardrobe, interior dan konseptornya kami memanggil orang yang ahli dan berpengalaman dalam bidang ini. Kami juga ingin menunjukkan bahwa Haunted House ini tidak bisa dipandang sebelah mata karena disini kreativitas dan seni sangat dibutuhkan,” papar Rengga. (mgw/wir)

(selengkapnya...»)

Kamis, 05 Agustus 2010

Inspirasi Madz

Andreas Ryan Sanjaya

Yogyakarta—Auditorium MM UGM Yogyakarta (04/08) sejenak memunculkan ekspresi yang aneh pada orang-orang di dalamnya. Ada yang tersenyum kecut, ada yang membuka mulut dan mata lebar-lebar, ada yang tegang, bahkan ada pula yang hanya bisa lemas dan terdiam di kursi tanpa ekspresi. Orang-orang itu sedang menyaksikan sekelompok kecil orang yang mengharmonisasikan nada melalui nyanyian dari hati mereka. Mereka adalah Philippine Madrigal Singer alias Madz, kelompok paduan suara dari Filipina.

Malam itu Madz rencananya menyanyikan 18 lagu tetapi karena tepuk tangan tiada henti dan teriakan berulang-ulang dari penonton, ”We want more!”, mereka yang sudah turun panggung kembali lagi ke atas panggung. Tanpa diiringi satu pun alat musik mereka menyanyikan lagu tambahan dan malam itu mereka berhasil membius penonton dengan total 21 lagu.

Kedatangan mereka kali ini merupakan sebuah rangkaian acara selama Madz berada di Indonesia. Sebelum ke Yogyakarta terlebih dahulu mereka ke Bandung untuk menyemarakkan lomba paduan suara tingkat internasional di ITB. Mereka tidak hanya mengadakan konser saja, melainkan juga choir clinic yang bertujuan untuk memperbaiki kualitas kelompok-kelompok paduan suara dari kota yang dikunjunginya. Bagaimana dengan kualitas mereka sendiri? Jangan ditanya, mereka adalah pemenang pada ajang bergengsi dunia, European Grand Prix of Choral Singing, pada tahun 1997 dan 2007.

Tepuk tangan terkeras penonton terjadi ketika mereka menyanyikan ”Sempurna” dari grup musik Andra & The Backbone, ”Beautiful Girl” dari Jose Mari Chan, dan ”Circle of Life” dari Elton John. Madz menutup konser bertajuk ”Indonesia Goodwill Concert Tour 2010” ini dengan mengajak penonton turut serta bertepuk tangan. Keindahan harmonisasi suara mereka sangat menghibur dan menginspirasi penonton yang sebagian besar adalah orang-orang yang menggemari paduan suara. Seperti yang dikatakan Pungky, seorang aktivis PSM di universitasnya, ”Sebagai pemusik, saya terinsipirasi!”(ars) 
(selengkapnya...»)

Selasa, 28 Oktober 2008

Sultan HB X Siap Menuju RI-1

Andri Wicaksono, Yohanes Januadi - Teras Online
Foto oleh Hendy Adhitya


Alun-alun Utara Yogyakarta (28/10/08) -- Setelah sekian lama, sejak 7 April 2008, di mana Sultan HB X menyatakan tidak bersedia lagi menjadi Gubernur DIY, akhirnya jawaban tegas terlontar pada sore hari tadi, 28 Oktober 2008. Acara Pisowanan Agung dengan tajuk “Dari Jogja Untuk Indonesia”, tampak riuh dengan panggung hiburan yang diisi oleh: Katon Bagaskara, Trie Utami, Franky Sahilatua, dan Kyai Kanjeng. Sajian hiburan pun tak lepas dari suasana politis, menatap hal ini jelas bahwa isu pluralisme menjadi semangat Sultan.

Di tengah cuaca yang mendung, ribuan masyarakat Yogyakarta maupun masyarakat perwakilan dari seantero Indonesia tampak antusias menantikan Sultan untuk menyampaikan jawabannya. Pada pukul 15:30 WIB, Sultan akhirnya memproklamirkan dirinya ke publik, bahwa beliau siap maju menjadi Presiden 2009. Kalah dan menang bukan masalah, sebagai bagian dari demokrasi Indonesia, inilah yang menjadi semangat perubahan yang ingin dibawa oleh Sultan. Predikatnya sebagai Raja, tidak ada kaitan dengan pencalonannya. “Yogyakarta sudah menjadi bagian dari Republik Indonesia, saya bukanlah raja seperti seratus tahun yang lalu, kini sudah bagian negeri ini,” kata Sultan.

Pisowanan Agung yang dibalut dengan konsep budaya, amat kental terasa suasana politisnya. Massa partai Republika Nusantara yang sepertinya sudah mendeklarasikan Sultan sebagai capres, turut pula membanjiri Alun-alun Utara Yogyakarta dengan atributnya. Acara pun berlangsung kondusif. Animo masyarakat Yogyakarta sendiri tidak begitu terasa dalam Pisowanan Agung kali ini. Hal ini merupakan salah satu indikasi dari terpecahnya dua kubu, Pro Penetapan dan Pro Pencalonan. Meski visi masyarakat Yogyakarta terbagi, namun suasana tepo sliro tetap terasa. Inilah Yogyakarta dengan babak baru yang digoreskan oleh Sultan HB X di Bumi Mataram untuk Indonesia.

Dalam acara Pisowanan Agung ini, sebetulnya ada sesuatu yang ingin diangkat oleh Sultan HB X yaitu sebuah konsep budaya yang amat pluralis, yaitu dengan mengundang berbagai wujud kesenian yang ada di Indonesia, seperti kesenian Jathilan, kesenian dari Sulawesi Utara, pengarakan bendera merah putih dan berbagai tarian maupun jenis kesenian yang lainnya. Tetapi tema yang ingin disampaikan cenderung terkesan sulit untuk ditangkap oleh sebagian besar masyarakat yang datang, pasalnya keseluruhan kesenian itu hanya dikirab menghadap panggung tamu undangan saja dan tidak melakukan atraksi apapun, padahal sebagian besar orang yang datang dalam acara ini menginginkan sesuatu hiburan kesenian yang mereka tahu sebagai sebuah gelaran budaya.

Nampaknya gelaran budaya yang disajikan hanya terlihat sebagai ”alat” penarik animo masyarakat untuk menghadiri acara ini, walaupun pada kenyataannya animo masyarakat Yogyakarta belum terasa. Secara keseluruhan acara ini berhasil mencapai tema besar yang diangkatnya yaitu ”Dari Yogyakarta Untuk Indonesia”. Melalui acara ini juga sebuah praktek demokrasi telah dilaksanakan yaitu tempat di mana rakyat dan pemimpinnya dapat berkomunikasi, baik melalui acara besar Pisowanan Agung maupun sub-acaranya yaitu konferensi pers.(ndr/jan)
(selengkapnya...»)

Senin, 22 September 2008

Bagaimana Nasib RUU APP?

Winda Angelita – Teras Online

Malioboro (22/09/08) Demo menolak RUU AP kembali digelar. Siang tadi sekitar pukul 14.00 WIB kota Jogja mendapat ‘giliran’-nya. Demo yang dilaksanakan tepat di depan Gedung Agung Yogyakarta berlangsung damai dan dihadiri oleh beberapa elemen masyarakat. Mereka memiliki beraneka ragam tuntutan.

Layaknya mengantri sembako, para aktivis elemen masyarakat menunggu waktu untuk berorasi di atas panggung sederhana yang telah disediakan. Jalan Malioboro pun penuh oleh masyarakat dan massa aksi.

“Jangan biarkan kebudayaan seni kita dikekang olah RUU AP!” seru Linda salah satu peserta demonstrasi, yang disambut meriah oleh massa yang sebagian besar adalah seniman. Seruannya mengawali rangkaian orasi menanggapi hadirnya RUU AP. Dalam orasinya, Linda juga menyuarakan hak-hak perempuan, di mana perempuan selalu menjadi kambing hitam atas tindakan eksploitasi yang diterima oleh kaum hawa.

Pada aksi damai ini, terlihat beberapa seniman Yogyakarta ikut turun ke jalan. Salah satunya adalah Djaduk Ferianto yang di akhir demo memimpin para demonstran menyanyikan lagu Indonesia Raya. Untuk mengakhiri demonstrasi sore itu, dibacakan pernyataan sikap dari para demonstran. Salah satu poinnya menekankan bahwa prinsip-prinsip dasar tata pemerintahan yang baik adalah dengan merestorasi perangkat hukum yang ada.

Dengan mengesahkan RUU AP tanpa memperhatikan pemerintahan dan perangkat hukum yang ada, implementasi dari UU tersebut tidak akan berjalan efektif.(og)
(selengkapnya...»)

Jumat, 01 Agustus 2008

Animasi dalam Seni Rupa

Hendy Adhitya - Teras online

Yogyakarta
(01/08/08) -- Kepala anjing itu tengadah, sementara di atasnya seorang perempuan muncul dari kelopak bunga berwarna merah nampak menjilat tulang yang dibawa di tangan kanannya. Bruno and Red Lily, digambar di atas kanvas berukuran 200 x 150 cm. Karya perupa Kokok Suratmoko itu dipamerkan bersama 17 perupa lain di Jogja National Museum (JNM), Gampingan, Yogyakarta.

Mereka adalah Kampret, Rocka Radipa, Bofag, Farid, Singgih Dwi, Fredy Candra, Satriya Anggun, Paimo, Arif Herdian, Evan Christiawan, Tommy Surya, Istasius, Malaikat, Julian ‘Togar’ Abraham, Krisgatha, Wimo A Bayang, Uji Hahan Handoko.

Pameran yang diadakan oleh VIVIDanimamix, sebuah komunitas seni animasi dan komik dari Yogyakarta ini menampilkan 29 karya seni rupa dan empat buah karya seni instalasi. Semua karya yang dieksibisikan mendapat pengaruh dari animasi dan komik luar negeri. Seperti karya Fredy Candra, I am Ready, yang menampilkan sohib Batman, Robin dengan bayang-bayang hijau Penguin, musuh mereka.

Pameran yang berlangsung mulai hari ini (01/8) hingga 5 Agustus 2008 mengambil tema Electric Youth. Sewaktu ditanyai alasan pengambilan tema, penyelenggara pameran Handra yang ditemui di sela pembukaan pameran (01/8) mengatakan, “Kita buat karya yang happy, kita bikin karya yang fun buat anak muda.”

Ia juga menambahkan kini banyak seniman-seniman yang mulai mengekspresikan karyanya dengan menggabungkan gaya komik dan animasi. Khususnya manga Jepang. Apalagi VIVIDanimamix mengklaim tengah mengusung cabang seni baru, yaitu karya seni yang terpengaruh dari animasi dan komik. “Karyanya bisa macam-macam, patung dan lukisan,” ujarnya. Rencananya pameran ini akan berlanjut di Jakarta, Singapura, Malaysia dan Jepang.(hen)
(selengkapnya...»)

Sabtu, 07 Juni 2008

Pembukaan FKY 2008

Dany Ismanu - Teras online

Malioboro (07/06/2008) --
Festival Kesenian Yogyakarta 2008 (FKY) hari ini resmi dibuka. Pesta pembukaan FKY diawali dengan pawai berbagai elemen masyarakat di sepanjang Jalan Malioboro. Di akhir acara, Sultan resmi membuka FKY 2008 dengan sambutan dari atas panggung yang terletak di depan Gedung Agung.

Pawai pembukaan sendiri dimulai pukul 14.00 WIB dengan start awal di lapangan Abu Bakar Ali. "Acara pawai akan dimulai dari Abu Bakar Ali," ujar salah seorang panitia ketika diwawancarai Teras. Jalan malioboro pun tertutup dari pukul 14.00 WIB sampai sekitar pukul 17.00 WIB. Diawali oleh barisan Polisi Anti Huru Hara (PHH), pawai selanjutnya menampilkan pertunjukkan seni dari berbagai kampung yang lolos seleksi. Kampung yang lolos seleksi diantaranya adalah Kampung Minggiran, Pandeyan, Pajeksan, dan Kampung Mergangsan Kidul. "Tema kita kembali ke masa dulu dengan menampilkan kesenian dan permainan-permainan tradisional," ujar panitia yang memimpin setiap barisan pawai. Komunitas Waria Yogyakarta juga turut ambil bagian memeriahkan pawai pembukaan ini.

Tema FKY tahun ini adalah "Masa Lalu Selalu Baru". Dengan tema ini diharapkan kita bisa mempelajari masa lalu untuk bisa lebih baik lagi di masa depan. Begitu kira-kira ajakan dari Aji wartono direktur utama FKY 2008 dalam sambutannya. Berlangsung sekitar 2 bulan dari tanggal 7 Juni 2008 sampai 7 Agustus 2008, Sultan juga berharap FKY bisa bermanfaat bagi masyarakat Yogyakarta.

Gong pembuka ditandai dengan para tamu undangan termasuk Sultan, memasukkan koin ke dalam celengan berbentuk Kertasena. "Selamat, dan semoga sukses!!" tutup Sultan mengakhiri pidato pembukaan FKY 2008.(dny)
(selengkapnya...»)

Rabu, 21 Mei 2008

Unjuk Rasa Peringatan Hari Kebangkitan Nasional 2008

Clara Devi - Teras Online

Malioboro (21/05/08) -- Sebagai bentuk kepedulian dalam memperingati 100 Tahun Kebangkitan Nasional, siang kemarin (20/05) beberapa ormas melakukan unjuk rasa di sepanjang jalan utama Malioboro Yogyakarta. Salah satu dari kelompok tersebut adalah massa yang tergabung dalam Ikatan Mahasiswa Muhammadyah (IMM). Mereka terdiri dari kelompok IMM Sleman dan IMM BMPS.

Dengan memakai jas dan ornamen yang didominasi oleh warna merah, sekitar pukul 11.00 WIB massa berhimpun di perempatan lampu merah Kantor Pos Besar lalu bergerak ke arah timur melawan arus kendaraan. Titik akhir pemberhentian mereka adalah Gedung Agung. Saat massa mulai memantabkan formasinya, polisi yang telah berjaga sejak pagi segera menyambut dengan berbaris seadanya di belakang rantai pembatas jalan.

"BLT = Mental Pengemis!" Begitulah kalimat seruan yang tertulis tebal dalam poster utama massa IMM. Mereka mendesak pemerintah untuk tidak lagi melanjutkan sistem Bantuan Langsung Tunai (BLT) yang hanya akan membuat rakyat menjadi pemalas yang mengemis di negara mereka sendiri. Hal tersebut diserukan berkaitan dengan tuntutan yang mereka ajukan, antara lain batalkan kenaikan harga BBM, tolak privatisasi BUMN, segera nasionalisasikan aset-aset bangsa, turunkan harga sembako, perhatikan kesejahteraan buruh, hapus sistem kerja kontrak, hingga desakan untuk mereformasi agraria dan mengembalikan hak-hak kaum tani. Tuntutan tersebut juga disampaikan melalui yel-yel dan lagu yang mereka kumandangkan sepanjang jalannya unjuk rasa.

Meskipun hanya berlangsung sesaat, cukup banyak masyarakat yang menolehkan wajahnya dan terlihat mengamati keadaan saat melintasi kerumunan unjuk rasa tersebut. Ungkapan penuh semangat para orator IMM yang menekankan tentang pentingnya keberadaan sense of belonging atau semangat nasionalisme dalam kehidupan bernegara bangsa Indonesia kiranya bisa dikatakan menarik sebagai pembuka bagi serangkaian aksi kelompok lain yang dilakukan setelahnya.

Beberapa kali massa IMM secara bersama-sama melangkah maju untuk menerobos rantai pembatas antara mereka dengan barisan polisi yang menutupi gerbang depan Gedung Agung. Setiap kali terdengar seruan "Satu komando, satu tujuan!" beberapa personil polisi harus merapatkan diri mereka dan menghalangi massa menembus barikade. Massa pada akhirnya tidak berhasil membawa diri mereka lebih jauh dari batas rantai tersebut.

Sebelum pukul 12.00 WIB massa akhirnya membubarkan diri dengan tertib, setelah sebelumnya sempat saling bersalaman dengan para personil Kapoltabes Yogyakarta yang menjaga keseluruhan aksi mereka.(clr)
(selengkapnya...»)

Minggu, 04 Mei 2008

Sekolahku Rumahku: Dunia Anak Dunia Bermain

Hendy Adhitya – Teras Online

Malioboro(04/05/08) -- “Dunia anak adalah dunia bermain,” ujar Tri Budi Santosa, Kepala SD Bumi 1 Solo memulai sesi diskusi bertajuk Guru dan Orangtua sebagai Sahabat Anak: Refleksi Pendidikan Dasar dan Manajemen Berbasis Sekolah. Diskusi yang diadakan Jumat kemarin (02/05) dalam rangka pemutaran film Sekolahku Rumahku dan refleksi Hari Pendidikan Nasional ini merupakan hasil kerja sama UNICEF, Orca Films dan Elang Touth Development. Acara ini diselenggarakan di Ruang Audio Visual Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta selama 2-4 Mei 2008.

Menurutnya lagi, guru harus mampu menjadi teladan bagi muridnya. Karena saat ini banyak bukti proses belajar mengajar di kelas amat tidak menyenangkan.”Jangan men
judgement anak-anak,” Ujar pria yang juga berperan sebagai Panut si penjual ikan di pasar yang amis dan ceriwis dalam film ini.

Tri Budi juga memandang Ujian Akhir Nasional (UAN) yang menjadi isu besar saat ini merupakan hal yang tidak perlu dibesar-besarkan. ”Apabila proses pembelajarannya betul, UAN tidak masalah.” Baginya bila anak didik mengikuti les tambahan yang dikonsentrasikan kepada mata pelajaran yang diujikan di UAN berarti, menurut dia, ”Ada kesalahan dalam proses.”

Film Sekolahku Rumahku yang rilis awal 2008 ini berangkat dari konsep Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) yang diaplikasikan di sejumlah sekolah dasar (SD) di wilayah Surakarta. Ide cerita gagasan para guru dikembangkan produser Adam Herdanto dan sutradara Ambara Muji Prakosa dengan melakukan riset serta observasi intensif

Melalui film ini, kata Tri Budi yang juga didampingi pembicara I Made Sutama (Kepala UNICEF Jawa Tengah – DIY), Drs. Sulardi MPd (Dinas Pendidikan Pemuda dan Olah Raga Surakarta) dan Adam Hendarto (Produser OrcaFilms) mengatakan, ”Gerakan dari bawah (melalui guru-guru-
pen) ini diharapkan akan mengubah sistem (pengajaran di sekolah selama ini-pen).” Katanya kepada peserta diskusi yang kebanyakan dihadiri oleh guru dan ibu-ibu rumah tangga.

Sekolahku Rumahku adalah film tentang character building . Tidak saja tentang para guru dan orangtua memahami anak-anak mereka dan memberikan makna terhadap realitas di sekitarnya, melainkan juga bagaimana semua pihak belajar dari anak-anak. Film ini diperankan oleh Valerina Daniel, Theo Christanto, Aditya Novika beserta guru-guru SD di wilayah Solo.(hen/press release)
(selengkapnya...»)

Jumat, 02 Mei 2008

KPG DIY Memberikan 9 Tuntutan Kepada Pemerintah

Joze Arimatea Pranatha - Teras online

Malioboro (02/05/08) -- Bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional, ratusan demonstran dari berbagai elemen mahasiswa turun kejalan guna memperingatinya. Dengan menyuarakan tuntutan mereka masing-masing di sepanjang jalan Malioboro dan di kantor DPRD Yogyakarta, mereka menuntut kepada pemerintah untuk lebih bijak dalam menyikapi isu-isu pendidikan.

Rombongan demonstran yang melakukan aksi tersebut terbagi dalam lima kelompok besar. Salah satunya adalah KPG DIY, Kelompok Pendidikan Gratis D.I. Yogyakarta, yang melayangkan sembilan tuntutan yang semuanya berhubungan dunia pendidikan kepada pemerintah daerah maupun pusat. “Kami menuntut supaya pemerintah mau dan lebih serius lagi dalam menjalankan komitmen mereka akan anggaran 20% yang disediakan bagi dunia pendidikan. Kalo tidak dijalankan, lebih baik dicabut saja”, ungkap Syaiful Bahri, Koordinator KPG DIY.

Selain menuntut pencabutan anggaran 20% yang disediakan bagi dunia pendidikan tersebut, mereka juga menuntut agar pemerintah membuat kurikulum kebangsaan. Karena menurutnya, kurikulum yang ada sekarang sudah membuat mereka yang menjalaninya semakin menjadi individual dalam segala hal. “Kurikulum kebangsaan ini nantinya akan membuat kita menjadi lebih menyatu dengan siapa saja, bukan malah menjadi individualistis seperti sekarang”, tambahnya.

Tuntutan lainnya yang dilayangkan adalah penolakan akan RUU BHP, mencabut Perpres No. 76 tentang Kriteria dan Persyaratan Penyusunan Bidang Usaha yang Tertutup dan Bidang Usaha yang Terbuka dengan Persyaratan di Bidang Penanaman Modal dan No. 77 tentang Daftar Bidang Usaha yang Tertutup dan Bidang Usaha yang Terbuka dengan Persyaratan di Bidang Penanaman Modal. “Karena berarti mereka sudah lepas tangan dengan masalah pendidikan yang memang sudah menjadi tugas mereka sebagai pemerintah”, ujar Syaiful.

Menolak pengurangan Dana BOS, mewujudkan pendidikan dasar gratis untuk rakyat, mewujudkan pendidikan dasar yang sepenuhnya ditanggung pemerintah, serta menyatakan bahwa SBY-JK tidak komitmen dalam pemenuhan hak dasar pendidikan adalah tuntutan lainnya yang mereka layangkan kepada pemerintah.

Demi menjaga keamanan dan kenyamanan selama berlangsungnya aksi massa tersebut, pihak kepolisian menurunkan dua kompi personil Samapta. “Kita sudah menyebar dua SSK personil kami dari Polda dan Polwiltabes dibeberapa titik penting. Yakni di Abu Bakar Ali, Kepatihan, Gedung Agung, serta di kantor pos besar”, ujar KomPol Suwandi, Kasat Samapta Polwiltabes DIY, sambil mengatur posisi keberadaan personilnya.

Aksi yang sempat membuat macet di sepanjang jalan Malioboro tersebut akhirnya bubar dengan rapi. Setelah masing-masing koordinator aksi membacakan tuntutan mereka di perempatan kantor pos besar Yogyakarta.(Joz)
(selengkapnya...»)

Kamis, 01 Mei 2008

Lagi, Rencana Unjuk Rasa

Dany Ismanu - Teras Online

Malioboro (01/05/08) -- Dalam aksi massa peringatan hari buruh yang berlangsung tadi pagi, terdapat juga beberapa elemen dari mahasiswa. Selain ikut mengusung tema besar hari itu, mereka juga membawa beberapa isu pendidikan.

Rencananya, besok (02/05/08) mereka juga akan melakukan unjuk rasa memperingati Hari Pendidikan Nasional. "Rencana besok akan turun dalam rangka hardiknas," ujar Akbar menjelaskan, salah satu korlap dari elemen PRP. Aksi massa esok hari kembali dimulai dari taman parkir Abu Bakar Ali tepat pukul 09.00 WIB, longmarch menuju Gedung Agung.

Bedanya, besok mereka akan tergabung menjadi satu dalam Aliansi Mahasiswa Bersatu. "Nasionalisasi industri tambang untuk pendidikan gratis, itu salah satu tuntutan kita," Akbar menambahkan.(dny)
(selengkapnya...»)

Unjuk Rasa Peringatan Hari Buruh Internasional

Tim Reportase – Teras Online
Foto Oleh Joze Arimatea


 Malioboro (01/05/08) -- Siang tadi ratusan massa dari berbagai elemen masyarakat yang tergabung dalam Front Rakyat Anti Imperialisme berunjuk rasa dengan melakukan long march. Sepanjang Jalan Malioboro sampai Gedung Agung Yogyakarta tertutup setengahnya.

Unjuk rasa ini berkaitan dengan momentum hari buruh Internasional/May Day yang jatuh pada hari yang sama. Tuntutan umumnya tidak lepas dari permasalahan buruh dan pendidikan yang belum terselesaikan oleh rezim SBY-Kalla. Beberapa tuntutannya adalah naikkan upah buruh; turunkan harga sembako; hapuskan sistem outsourcing; jaminan kesejahteraan dan kesehatan buruh; pendidikan gratis dan lain-lain.

Massa berkumpul di taman parkir Abu Bakar Ali sejak pukul 09.00 WIB. Namun menunggu kawan-kawan dari Kulon Progo, massa baru bergerak seluruhnya sekitar pukul 10.30. Pihak keamanan pun telah berjaga disepanjang jalan, siap mengamankan. “Personil yang saya turunkan 330,” ujar Kapoltabes Yogyakarta, Agung Budi. Sebagian personil keamanan turun langsung ke lapangan, sebagian lagi berjaga di markas.

Disepanjang jalan, massa meneriakkan yel-yel unjuk rasa. Hal ini menarik masyarakat yang sedang beraktivitas dan membuat macet jalan Malioboro. Jalur kendaraan bermotor pun sempat dialihkan ke sisi barat jalan Malioboro.

Sekitar pukul 12.00 aksi massa sampai di depan Gedung Agung. Dengan tertib mereka duduk dan menggelar mimbar bebas untuk berorasi menyampaikan tuntutannya. “Rayap-rayap, gak kenal merakyat, berjas dasi dalam kantor, makan minum darah rakyat!!” Begitu kira-kira lirik lagu yang dilantunkan oleh wakil dari Serikat Pengamen Indonesia. Dalam orasinya, rayap-rayap diandaikan sebagai penguasa yang terlalu korup yang tidak berpihak dan tidak sayang kepada rakyatnya.

Perwakilan dari beberapa elemen diberi kesempatan untuk berorasi. Sementara, aparat kepolisian berjaga mengapit massa di depan Benteng Vredeburg dan Gedung Agung. Sekitar pukul 15.00 WIB massa dengan tertib membubarkan diri dan kembali dengan kelompoknya masing-masing.(dny)
(selengkapnya...»)

Kamis, 29 November 2007

Yogyakarta Tuan Rumah Perdana Roadshow IBL All Star 2007

Silvia Winda, Veronika Angela - Teras Online

Yogyakarta (29/11/2007) -- Sejumlah pemain IBL All Star menantang 3 on 3 beberapa penonton di lapangan basket depan Hotel Ambarukmo Yogyakarta. Kegiatan tersebut merupakan salah satu tujuan yang dicapai panitia IBL untuk mendekatkan IBL all star dengan penggemarnya. "….. IBL bisa diterima untuk mengangkat citra dan kecintaan masyarakat pada bola basket serta mendekatkan bintang-bintang IBL dengan penggemarnya." ujar Bambang salah satu panitia penyelenggara IBL.

Dalam kegiatan pre event ini selain menghadirkan para pemain IBL All Star juga di gelar 3 on 3 contest, Three Point Shot, dan mengundang band Top 40. Pre event ini adalah ajang pemanasan sebelum road show IBL All Star yang keempat dipenghujung tahun 2007 yang diselenggarakan di GOR STIE YKPN Yogyakarta pada tanggal 30 November 2007.(Win/Ang)

(selengkapnya...»)

Kamis, 09 Agustus 2007

Gempa 7,0 SR Kejutkan Jogja

Hendy Adhitya - Teras Online

Babarsari (09/08/07) Jam 00:05 WIB kamis tadi (09/08) gempa sebesar 7,0 skala Ritcher mengejutkan warga di Jogja. Gempa ini juga mengagetkan mahasiswa FISIP UAJY yang berada di kampus.

Hingga berita ini diturunkan kampus FISIP UAJY tidak mengalami kerusakan bangunan fisik. Juga tidak ada korban jiwa.(hen)
(selengkapnya...»)

Rabu, 02 Mei 2007

Demo Hari Buruh, Warga Kulon Progo Duduki Kepatihan

Tim Liputan: Hendy Adhitya, Andri Wicaksono, Joze Arimatea dan Michael Eko - Teras Online
Foto oleh Michael Eko 


Yogyakarta (02/05/07) Dalam rangka Hari Buruh Sedunia sebagian warga Kulon Progo yang tergabung dalam PPLP –KP kemarin (01/05) menduduki Kantor Gubernuran di Kepatihan. Mereka menuntut Gubernur DIY sekaligus Sultan DIY untuk menolak rencana Pemkab Kulon Progo membangun penambangan bijih besi di pesisir pantai selatan Kulon Progo.

Massa sekitar 500 orang datang memenuhi pelataran pendopo di Kantor Gubernuran. Selain PPLP-KP organisasi yang tergabung dalam Panitia Bersama Peringatan Hari Buruh Sedunia ialah, AGRA, PAMITRA, SB Primisima, SB ISS, SB Sampoerna, Buruh Sahid, Buruh Grestenan, SPHP , FMN dan SPOER.Sebelumnya massa aksi gabungan berorasi di halaman Gedung DPRD. Sekitar satu jam kemudian mereka melanjutkan demo dengan berjalan kaki menuju Kantor Gubernuran.

Bersitegang
Saat memasuki halaman dalam Kantor Gubernuran negosiator demo sempat bersitegang dengan Satpol PP. Penyebabnya, demonstran tidak diperbolehkan masuk oleh petugas dengan alasan sedang ada rapat.Satpol PP yang sempat menghalangi jalan masuk demonstran dengan motor tak mampu membendung massa yang mulai marah. Akhirnya satpol PP menyerah. Demonstran kemudian berhasil masuk ke pendopo dan memaksa ingin bertemu Sri Sultan HB X.

Namun Sri Sultan HB X tidak hadir saat itu. Massa demonstran kecewa. Mereka mengancam akan menduduki pendopo hingga Sultan tiba. Sekitar jam 12.13 WIB Trihadji, Sekretaris Daerah dengan beberapa pejabat lain datang menemui massa. Mereka datang mewakili Sultan yang berhalangan hadir.

Forum diskusi antar demonstran dan pejabat pemerintah daerah terjadi. Para demonstran melalui wakilnya menyampaikan tuntutan mereka. Tuntutan mereka selain menolak MoU pasir besi di Kulon Progo ialah, persoalan PHK buruh serta penanganan pasca gempa yang masih bermasalah.(hen/and/joz/mik)
(selengkapnya...»)

Jumat, 27 April 2007

FPPI DIY Demo di Perempatan Tugu

Hendy Adhitya dan Joze Arimatea - Teras online
Foto oleh Joze Arimatea


Yogyakarta (27/04/07) -- Front Perjuangan Pemuda Indonesia DIY(FPPI DIY) kemarin (26/04) berdemonstrasi di perempatan Tugu Yogyakarta. Massa FPPI DIY sebanyak 15 orang berorasi dan merentangkan spanduk bertuliskan “Konsolidasi Kerakyatan untuk Kebangkitan Nasional”.

Aksi demonstrasi dimulai pukul 10.00 WIB. Mereka menuntut kepada pemerintah untuk menaikkan upah buruh, tolak UU Penanaman Modal, tanah untuk rakyat, rombak kurikulum dan tegakkan supremasi hukum.

Ari, Koordinator Aksi mengatakan, “pemaknaan demonstrasi ini sebagai pernyataan sikap kami (FPPI –red) terhadap kebijakan pemerintah yang nampaknya hanya menuruti desakan negara-negara donor”. Ia mencontohkan UU Penanaman Modal yang disahkan 29 Maret 2007 lalu oleh DPR merupakan kebijakan liberalisasi.


Lebih jauh lagi ia meminta masyarakat bersatu dan bangkit melawan segala bentuk penindasan dan penghisapan yang terjadi di negeri ini. Disamping itu, aksi ini juga merupakan aksi solidaritas atas ketidakadilan pengadilan negeri Manado yang memvonis bebas P.T Newmont Minahasa Raya 24 April lalu.


Sekitar satu jam kemudian massa FPPI DIY bergerak menuju perempatan kantor pos besar di Malioboro. Mereka berjalan tertib dengan kawalan satu truk polisi dibelakangnya. Sambil menyorakkan yel-yel “Rakyat bersatu! Tak bisa dikalahkan!” mereka sempat berorasi di depan Hotel Garuda dan di depan Gedung DPRD Yogyakarta.(hen/joz)
(selengkapnya...»)

Rabu, 18 April 2007

Sri Sultan Ke-X Janji Tidak Akan Berkhianat

Hendy Adhitya dan Andri Wicaksono – Teras Online


Yogyakarta (18/04/07) -- Sri Sultan ke –X berjanji tidak akan berkhianat kepada masyarakat Yogyakarta. Demikian pernyataan tersebut disampaikannya saat acara Pisowanan Agung di Pagelaran Kraton, Alun-alun Lor Yogyakarta.

Acara berlangsung pukul satu siang waktu setempat. Sri Sultan ke –X beserta istri dan keluarga hadir menemui ribuan masyarakat Yogyakarta berkait dengan pernyataan kontroversi absennya Sri Sultan ke –X di pencalonan Gubernur DIY masa bakti 2008-2013.

Menurutnya, dengan tidak menjadi gubernur (lagi-red) di masa berikutnya, Sri Sultan malah bisa berbuat banyak hal kepada masyarakatnya. Tidak hanya masyarakat Yogyakarta namun masyarakat Indonesia juga. Contohnya, ia ingin menerapkan paham kemajemukan di masyarakat Indonesia seperti yang Sri Sultan lakukan selama ini bagi masyarakat Yogya. “Saya tidak mungkin akan berkhianat kepada masyarakat Jogja dan republik”, tegasnya. “Karena saya sudah berjanji kepada orang tua saya untuk mengayomi masyarakat Yogyakarta, dan saya berjanji tidak boleh memiliki ambisi selain untuk menyejahterakan masyarakat”, lanjutnya sembari diiringi tepukan tangan masyarakat Yogya yang hadir.

Sehubungan dengan keputusan Sri Sultan ke –X untuk tidak menjadi gubernur DIY di masa berikutnya, banyak warga yang menyatakan kesedihannya. Perwakilan pernyataan sikap dari masyarakat Kabupaten Sleman, Bantul, Kulonprogo, Gunungkidul dan Kota Yogyakarta semuanya menyatakan kekagetan dan kekecewaannya terhadap langkah politis Sri Sultan ke –X ini.(hen/and)



(selengkapnya...»)

Kamis, 12 April 2007

Si Jago Merah Hanguskan 9 Kios

Hendy Adhitya - Teras Online

Selokan Mataram (11/04/07) -- Kemarin malam (10/04) si jago merah menghanguskan sembilan kios di wilayah Selokan Mataram, Seturan, Yogyakarta. Menurut saksi mata kejadian berlangsung pukul 22.00 WIB.

Dua mobil pemadam kebakaran yang datang malam itu berhasil memadamkan api. Sedangkan aparat polisi segera mengamankan TKP dengan memberi garis batas polisi.

Kejadian ini mengundang perhatian masyarakat sekitar Selokan Mataram. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini. Kerugian ditaksir mencapai ratusan juta rupiah.

Hingga kini polisi masih menyelidiki penyebab kebakaran yang telah menghanguskan sembilan kios.(hen)
(selengkapnya...»)