Selasa, 06 Mei 2008

Protes Presensi 75%!!!

Dany Ismanu - Teras online

Babarsari (06/05/08) -- Kemarin Senin (05/05/08) setiap fakultas di Universitas Atma Jaya Yogyakarta mengeluarkan pengumuman berkaitan dengan lolos presensi 75%. Mahasiswa pun ramai memeriksa adakah nomor mahasiswanya tercantum disana. Jantung berdebar, mata juga sibuk mencari, nama yang tercantum sudah dipastikan tamat, tidak boleh ikut ujian pada mata kuliah yang bersangkutan.

Kebijakan yang satu ini memang banyak menimbulkan pro dan kontra sejak pelaksanaannya. Dalam menanggapi hal ini, beberapa mahasiswa FISIP UAJY mengeluarkan protes. Spanduk berwarna biru terbentang di lobi kampus. Bertuliskan "Tolak Presensi 75%", mereka menuntut agar kebijakan ini bisa dikaji dan dikritisi lagi. "Ini sebagai feedback dari mahasiswa terhadap kebijakan tersebut untuk bisa dikritisi lebih jauh lagi," ujar Hendy Aditya, wakil presiden BEM FISIP UAJY.

Protes secara langsung pun dilayangkan oleh mahasiswa yang merasa lolos sementara nomornya tercantum pada pengumuman tersebut. Spanduk protes mahasiswa tersebut, yang baru terpasang siang tadi belum mendapatkan tanggapan dari pihak fakultas. Fakultas sendiri sebagai mitra mahasiswa layaknya bisa mempertimbangkan kembali kebijakan-kebijakan yang terkait dengan mahasiswa.

Akhirnya kebijakan ini seakan menjadi palu hakim yang menentukan 'hidupmati' si mahasiswa. Selamat kepada mahasiswa yang bisa lolos dari lubang jarum. Sampai bertemu tahun depan kepada mahasiswa yang terpaksa mengulang.(dny)
(selengkapnya...»)

Minggu, 04 Mei 2008

Sekolahku Rumahku: Dunia Anak Dunia Bermain

Hendy Adhitya – Teras Online

Malioboro(04/05/08) -- “Dunia anak adalah dunia bermain,” ujar Tri Budi Santosa, Kepala SD Bumi 1 Solo memulai sesi diskusi bertajuk Guru dan Orangtua sebagai Sahabat Anak: Refleksi Pendidikan Dasar dan Manajemen Berbasis Sekolah. Diskusi yang diadakan Jumat kemarin (02/05) dalam rangka pemutaran film Sekolahku Rumahku dan refleksi Hari Pendidikan Nasional ini merupakan hasil kerja sama UNICEF, Orca Films dan Elang Touth Development. Acara ini diselenggarakan di Ruang Audio Visual Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta selama 2-4 Mei 2008.

Menurutnya lagi, guru harus mampu menjadi teladan bagi muridnya. Karena saat ini banyak bukti proses belajar mengajar di kelas amat tidak menyenangkan.”Jangan men
judgement anak-anak,” Ujar pria yang juga berperan sebagai Panut si penjual ikan di pasar yang amis dan ceriwis dalam film ini.

Tri Budi juga memandang Ujian Akhir Nasional (UAN) yang menjadi isu besar saat ini merupakan hal yang tidak perlu dibesar-besarkan. ”Apabila proses pembelajarannya betul, UAN tidak masalah.” Baginya bila anak didik mengikuti les tambahan yang dikonsentrasikan kepada mata pelajaran yang diujikan di UAN berarti, menurut dia, ”Ada kesalahan dalam proses.”

Film Sekolahku Rumahku yang rilis awal 2008 ini berangkat dari konsep Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) yang diaplikasikan di sejumlah sekolah dasar (SD) di wilayah Surakarta. Ide cerita gagasan para guru dikembangkan produser Adam Herdanto dan sutradara Ambara Muji Prakosa dengan melakukan riset serta observasi intensif

Melalui film ini, kata Tri Budi yang juga didampingi pembicara I Made Sutama (Kepala UNICEF Jawa Tengah – DIY), Drs. Sulardi MPd (Dinas Pendidikan Pemuda dan Olah Raga Surakarta) dan Adam Hendarto (Produser OrcaFilms) mengatakan, ”Gerakan dari bawah (melalui guru-guru-
pen) ini diharapkan akan mengubah sistem (pengajaran di sekolah selama ini-pen).” Katanya kepada peserta diskusi yang kebanyakan dihadiri oleh guru dan ibu-ibu rumah tangga.

Sekolahku Rumahku adalah film tentang character building . Tidak saja tentang para guru dan orangtua memahami anak-anak mereka dan memberikan makna terhadap realitas di sekitarnya, melainkan juga bagaimana semua pihak belajar dari anak-anak. Film ini diperankan oleh Valerina Daniel, Theo Christanto, Aditya Novika beserta guru-guru SD di wilayah Solo.(hen/press release)
(selengkapnya...»)

Jumat, 02 Mei 2008

KPG DIY Memberikan 9 Tuntutan Kepada Pemerintah

Joze Arimatea Pranatha - Teras online

Malioboro (02/05/08) -- Bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional, ratusan demonstran dari berbagai elemen mahasiswa turun kejalan guna memperingatinya. Dengan menyuarakan tuntutan mereka masing-masing di sepanjang jalan Malioboro dan di kantor DPRD Yogyakarta, mereka menuntut kepada pemerintah untuk lebih bijak dalam menyikapi isu-isu pendidikan.

Rombongan demonstran yang melakukan aksi tersebut terbagi dalam lima kelompok besar. Salah satunya adalah KPG DIY, Kelompok Pendidikan Gratis D.I. Yogyakarta, yang melayangkan sembilan tuntutan yang semuanya berhubungan dunia pendidikan kepada pemerintah daerah maupun pusat. “Kami menuntut supaya pemerintah mau dan lebih serius lagi dalam menjalankan komitmen mereka akan anggaran 20% yang disediakan bagi dunia pendidikan. Kalo tidak dijalankan, lebih baik dicabut saja”, ungkap Syaiful Bahri, Koordinator KPG DIY.

Selain menuntut pencabutan anggaran 20% yang disediakan bagi dunia pendidikan tersebut, mereka juga menuntut agar pemerintah membuat kurikulum kebangsaan. Karena menurutnya, kurikulum yang ada sekarang sudah membuat mereka yang menjalaninya semakin menjadi individual dalam segala hal. “Kurikulum kebangsaan ini nantinya akan membuat kita menjadi lebih menyatu dengan siapa saja, bukan malah menjadi individualistis seperti sekarang”, tambahnya.

Tuntutan lainnya yang dilayangkan adalah penolakan akan RUU BHP, mencabut Perpres No. 76 tentang Kriteria dan Persyaratan Penyusunan Bidang Usaha yang Tertutup dan Bidang Usaha yang Terbuka dengan Persyaratan di Bidang Penanaman Modal dan No. 77 tentang Daftar Bidang Usaha yang Tertutup dan Bidang Usaha yang Terbuka dengan Persyaratan di Bidang Penanaman Modal. “Karena berarti mereka sudah lepas tangan dengan masalah pendidikan yang memang sudah menjadi tugas mereka sebagai pemerintah”, ujar Syaiful.

Menolak pengurangan Dana BOS, mewujudkan pendidikan dasar gratis untuk rakyat, mewujudkan pendidikan dasar yang sepenuhnya ditanggung pemerintah, serta menyatakan bahwa SBY-JK tidak komitmen dalam pemenuhan hak dasar pendidikan adalah tuntutan lainnya yang mereka layangkan kepada pemerintah.

Demi menjaga keamanan dan kenyamanan selama berlangsungnya aksi massa tersebut, pihak kepolisian menurunkan dua kompi personil Samapta. “Kita sudah menyebar dua SSK personil kami dari Polda dan Polwiltabes dibeberapa titik penting. Yakni di Abu Bakar Ali, Kepatihan, Gedung Agung, serta di kantor pos besar”, ujar KomPol Suwandi, Kasat Samapta Polwiltabes DIY, sambil mengatur posisi keberadaan personilnya.

Aksi yang sempat membuat macet di sepanjang jalan Malioboro tersebut akhirnya bubar dengan rapi. Setelah masing-masing koordinator aksi membacakan tuntutan mereka di perempatan kantor pos besar Yogyakarta.(Joz)
(selengkapnya...»)

Kamis, 01 Mei 2008

Lagi, Rencana Unjuk Rasa

Dany Ismanu - Teras Online

Malioboro (01/05/08) -- Dalam aksi massa peringatan hari buruh yang berlangsung tadi pagi, terdapat juga beberapa elemen dari mahasiswa. Selain ikut mengusung tema besar hari itu, mereka juga membawa beberapa isu pendidikan.

Rencananya, besok (02/05/08) mereka juga akan melakukan unjuk rasa memperingati Hari Pendidikan Nasional. "Rencana besok akan turun dalam rangka hardiknas," ujar Akbar menjelaskan, salah satu korlap dari elemen PRP. Aksi massa esok hari kembali dimulai dari taman parkir Abu Bakar Ali tepat pukul 09.00 WIB, longmarch menuju Gedung Agung.

Bedanya, besok mereka akan tergabung menjadi satu dalam Aliansi Mahasiswa Bersatu. "Nasionalisasi industri tambang untuk pendidikan gratis, itu salah satu tuntutan kita," Akbar menambahkan.(dny)
(selengkapnya...»)

Unjuk Rasa Peringatan Hari Buruh Internasional

Tim Reportase – Teras Online
Foto Oleh Joze Arimatea


 Malioboro (01/05/08) -- Siang tadi ratusan massa dari berbagai elemen masyarakat yang tergabung dalam Front Rakyat Anti Imperialisme berunjuk rasa dengan melakukan long march. Sepanjang Jalan Malioboro sampai Gedung Agung Yogyakarta tertutup setengahnya.

Unjuk rasa ini berkaitan dengan momentum hari buruh Internasional/May Day yang jatuh pada hari yang sama. Tuntutan umumnya tidak lepas dari permasalahan buruh dan pendidikan yang belum terselesaikan oleh rezim SBY-Kalla. Beberapa tuntutannya adalah naikkan upah buruh; turunkan harga sembako; hapuskan sistem outsourcing; jaminan kesejahteraan dan kesehatan buruh; pendidikan gratis dan lain-lain.

Massa berkumpul di taman parkir Abu Bakar Ali sejak pukul 09.00 WIB. Namun menunggu kawan-kawan dari Kulon Progo, massa baru bergerak seluruhnya sekitar pukul 10.30. Pihak keamanan pun telah berjaga disepanjang jalan, siap mengamankan. “Personil yang saya turunkan 330,” ujar Kapoltabes Yogyakarta, Agung Budi. Sebagian personil keamanan turun langsung ke lapangan, sebagian lagi berjaga di markas.

Disepanjang jalan, massa meneriakkan yel-yel unjuk rasa. Hal ini menarik masyarakat yang sedang beraktivitas dan membuat macet jalan Malioboro. Jalur kendaraan bermotor pun sempat dialihkan ke sisi barat jalan Malioboro.

Sekitar pukul 12.00 aksi massa sampai di depan Gedung Agung. Dengan tertib mereka duduk dan menggelar mimbar bebas untuk berorasi menyampaikan tuntutannya. “Rayap-rayap, gak kenal merakyat, berjas dasi dalam kantor, makan minum darah rakyat!!” Begitu kira-kira lirik lagu yang dilantunkan oleh wakil dari Serikat Pengamen Indonesia. Dalam orasinya, rayap-rayap diandaikan sebagai penguasa yang terlalu korup yang tidak berpihak dan tidak sayang kepada rakyatnya.

Perwakilan dari beberapa elemen diberi kesempatan untuk berorasi. Sementara, aparat kepolisian berjaga mengapit massa di depan Benteng Vredeburg dan Gedung Agung. Sekitar pukul 15.00 WIB massa dengan tertib membubarkan diri dan kembali dengan kelompoknya masing-masing.(dny)
(selengkapnya...»)